Header Ads

Link Banner

Fenomena LGBT, BEM Faperika taja Seminar Nasional

Universitas Riau - Minggu 96/3), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan taja Seminar Nasional. Dengan mengambil tema "Selamatkan Generasi Muda dari Ancaman LGTB, Free Sex dan HIV/AIDS" ini dilaksanakan di ruang terubuk Faperika pukul 08.00 hingga pukul 12.00 WIB. Seminar ini diisi oleh dua pemateri, yakni M Maliki SPd yang juga Trainer, Pemerhati Remaja, Penulis dan Pelatih Public Speaking Nasional disandingkan dengan dr Ari Waristo, seorang praktisi dan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI).Untuk peserta seminar dihadiri ratusan mahasiswa universitas riau dan pelajar SMA di Kota Pekanbaru.

Kegiatan ini diadakan karena melihat berbagai fakta yang terjadi saat ini, tidak sedikit para pemuda dan pemudi yang terjerumus ke dalam lembah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) dan Free Sex. Disebabkan terlalu jauhnya kebebasan para remaja dalam bergaul hingga pada akhirnya tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan dan mengidap penyakit HIV/AIDS.

Disamping itu, didukung oleh arus modernisasi yang telah mengglobal dan lemahnya benteng keimanan, mengakibatkan masuknya budaya asing tanpa penyeleksian yang ketat. Hingga menjadikan sebagian pemuda/pemudi semakin kehilangan habitatnya dan bahkan hanya mengejar keinginan serta fantasi mereka untuk mengikuti budaya-budaya barat (Westernisasi).

"Diantaranya budaya sex bebas (Free Sex) & LGBT, yang hakikatnya ini merupakan bentuk penyimpangan yang nyata. Tidak dibenarkan secara sosial, apalagi agama", ungkap Yayuk Sugianti selaku Ketua Pelaksana.

Kegiatan seminar tersebut berjalan dengan lancar dan peserta sangat antusias. Terlihat dari beberapa peserta yang aktif bertanya. Bahkan respon para peserta dalam lembaran kuisioner yang disediakan oleh panitia, sangat kritis dan membangun. 

Ancaman LGBT, Free Sex dan HIV/AIDS bagi kaum muda khususnya harus segera diatasi dengan serius. LGBT adalah bentuk penyakit kejiwaan yang menyimpang dan bukan bagian dari faktor genetik. Serbuan LGBT di negeri ini dilakukan secara akademik, politik dan sosial. Secara akademik, penyebaran ide LGBT di antaranya berlindung di balik kajian akademik.

Bergerak dari atau ke kampus-kampus dan menyerukan ide LGBT melalui tulisan. Secara politik mereka melakukan gerakan politik. Seperti dengan melakukan aksi, berusaha mempengaruhi berbagai kebijakan politik dan bekerjasama dengan berbagai lembaga khususnya lembaga yang bergerak di bidang advokasi dan HAM.

Secara sosial, propaganda LGBT diserukan dengan beragam cara dan sarana. Melalui organisasi peduli AIDS dilakukan advokasi dan konsultasi, film, aksi di lapangan, budaya, media massa dan sebagainya. Targetnya untuk menyebarkan ide LGBT dan mengubah sikap masyarakat agar toleran dan menerima perilaku LGBT. Di antaranya dinyatakan, LGBT hanya merupakan ekspresi seksual dan gender dari faktor gen, keturunan dan bawaan.

Adapun ancaman penularan HIV/AIDS juga tidak kalah memprihatinkan. Terus meroketnya angka penularan dan penyebaran HIV/AIDS mengindikasikan bahwa upaya penanggulangan selama ini sudah gagal. Adanya skema ABC (Abstinence-Be faithful-Condom) untuk mencegah penularan HIV/AIDS menjadi sia-sia karena perilaku seksual masyarakat tetap dan malah semakin permisif.

Hubungan seks bebas (zina), lesbian, gay dan penggunaan jarum suntik secara bergiliran di kalangan pecandu adalah perbuatan maksiat yang menjadi biang penyebaran penyakit HIV/AIDS. "Karenanya, selama gaya hidup menyimpang seperti ini tidak dilarang, maka jangan harap penularan penyakit HIV/AIDS akan berkurang apalagi berhenti. Inilah ilusi SISTEM LIBERALISME yang mengharapkan bisa mencegah dan menangani penyebaran virus HIV/AIDS" tambahnya.

Maka dari itu tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan umat dari epidemi HIV/AIDS melainkan dengan mengenyahkan liberalisme lalu menggantinya dengan SYARIAT ISLAM. Islam akan mencegah perbuatan zina dengan membuka kemudahan pintu pernikahan dan menjaganya dengan sanksi pidana yang ketat

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.