Header Ads

Link Banner

Komunitas Bumi Unri ikuserta mengenang Hasan Yunus dan karyanya

pekanbarumx.co, Universitas Riau - Sebagai generasi bangsa, perlu kiranya kita mengingat asal muasal kebudayaan yang ada di tanah Melayu ini. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dan perlu juga diketahui cerita perjalanan hidup, sastrawan sejati almarhum Hasan Junus yang tutup usia, Sabtu malam (5/3) tahun 2012 silam.
 
Mengenang sastrawan yang mendunia ini, maka Sabtu (5/3) malam kemarin, lantai II, Gedung Graha Pena milik Riau Pos Group, di Jalan HR Soebrantas, Kecamatan Tampan, sekitar pukul 19.00 WIB, dipadati sejumlah guru SMA Cendana dan beberapa muridnya.
 
Bahkan beberapa tempat kursi lain, sudah ditempati Komunitas Forum Lingkar Pena, Komunitas Bumi dari UNRI, Tugu Songket dari UIN, dan May Moon Nasution.
 
Keramaian itu merupakan acara ‘Madah Poedjangga’, yang diprakarsai Sastrawan Riau Rida K Liamsi. Sementara panitia mengundang dua narasumber yang juga penyair Riau, yakni SPN Zuarman Ahmad SPD dan Dr Junaidi, dengan tema mengenang almarhum yang akrab disapa HJ itu.
 
Di masa hidupnya, keturunan langsung dari Raja Ali Haji ini dikenal dengan karyanya yang mengkritik dan esai tentang karya-karya sastra dan fenomena kebudayaan serta kesastraan. Karena HJ dikenal menguasai beberapa bahasa luar seperti Jepang, Prancis, Inggris, bahkan HJ juga dikenal menguasai bahasa-bahasa daerah. 
 
HJ juga memiliki kelebihan dalam menulis karya puisi, prosa, dan drama. Sehingga karyanya pernah diterjemaahkan ke bahasa Inggris.
 
Bagi beberapa orang seperti SPN Zuarman Ahmad, Dr Junaidi,  dan Murparsaulian, HJ berperan besar bagi karya, dan perkembangan  karir mereka di dunia sastra.
 
Menurut SPN Zuarman Ahmad, almarhum HJ adalah orang yang mengenalkannya kepada sastra-sastra bermutu. Seingat Zuarman secara tradisional, karya HJ memang kurang dikenal di nusantara. Akan tetapi para penyair di masanya sangat mengenal dan menghormatinya. ‘’Dia itu seperti kamus berjalan, dia unik, kalau dia memainkan musik pasti berhubungan dengan sastra,’’ terang Zuarman.
 
Karena kecerdasannya dan wawasannya terhadap sastra, HJ sudah dapat disetarakan dengan sastrawan barat. Karena sastrawan barat juga menaruh hormat padanya, begitu juga sebaliknya.
 
Menurut penilaian Dr Junaidi, secara filosofis karya HJ sangat kuat dan lebih condong ke sastra barat. Seingat Junaidi, HJ memiliki bakat besar menulis puisi, tapi beliau tidak pernah mengeluarkan karya puisi.
 
Ilmu yang diserap Junaidi dari HJ, bahwa agar dapat menjadi penulis yang handal harus memiliki wawasan yang luas.
 
Sementara itu, bentuk-bentuk penghargaan yang pernah diterima HJ adalah anugerah dagang kategori seniman dan budayawan pilihan sagang dari yayasan Sagang tahun 1999, dan perghargaan seniman pemangku negeri (SPN) dari dewan kesenian Riau, serta anugerah seniman perdana Riau (2003).
 
Di tanah kelahirannya, Hasan Junus merupakan seorang sastrawan yang sudah lama dikenal berkiprah di dunia sastra. Ia meniti karir dimulai dari Kepri, Tanjung Pinang, hingga kemudian masuk ke daratan Riau.
 
‘’Jadi, untuk kita sebagai generasi muda, perlu kiranya kita turut serta menjaga kelestarian budaya. Karena kehidupan yang merdeka sekarang ini, bisa kita dapatkan dari usaha para penyair, melalui perjuangan sastra yang mengkritik di masa perjuangan,’’ kata Dr Junaidi.
 
Kemudian jika Anda ingin lebih jauh mengenal acara Madah Poedjangga ini, maka anda dapat menyaksikannya dua minggu dari sekarang, dengan mendatangi Gedung Kaliandra, lantai II Graha Pena, Jalan HR Soebrantas, Tampan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.