Header Ads

Link Banner

NGERI !!! Eksistensi LGTB mengancam pranata sosial

Universitas Riau - Triandi Bimankalid, Mahasiswa Hukum 2012 - LGBT (Lesbian Gay Biseksual and Transgender) dapat dipahami dari berbagai sudut pandang baik dipandang berdasarkan nilai-nilai moral, budaya dan agama, juga dapat dipandang dari sisi ilmu pengetahuan mencakup biologi, psikologi dan sosiologi. Namun, secara keseluruhan LGBT tidak dapat diabaikan dan dapat dipahami sebagai sebuah gerakan sosial, yang tentu bergerak membuat pergerakan. Walaupun dapat dikatakan tidak ada sebuah organisasi atau sebuah entitas tertentu, namun secara gerakan, kelompok LGBT dapat dikatakan berada di dalam organisasi-organisasi yang terpisah. Sebagai contoh di Indonesia kelompok gay diwakili oleh sebuah organisasi besar yang menamakan dirinya Gaya Nusantara.

“Perkawinan adalah peristiwa sakral, prosesi ibadah, dan karena itu harus dilaksanakan sesuai ajaran agama,” Ada 6 agama di Indonesia dan kesemuanya tidak setuju pernikahan sesama jenis. Apalagi agama mayoritas di bumi nusantara adalah Islam yang sangat tegas menolak hal tersebut. Bahkan dalam kitab suci al Qur’an dikatakan Allah melaknat kaum Luth dan menghukumnya dengan azab yang pedih tatkala kaum Sodom yang berkelakuan homo seksual. Perkawinan harus berlandaskan nilai dan norma Agama.

Terdapat 3 argumen pendukung gay politics yang disebutkan oleh Jeffrey Satinover dalam bukunya Homosexuality and the politics of truth, yaitu:
1. Homoseksual adalah diturunkan secara biologis.
2. Homoseksual tidak dapat diubah secara psikologi.
3. Homoseksual adalah hal yang normal secara sosiologi.

Kajian Feminisme dan Gender ( HAM) adalah salah satu faktor pendukung untuk melegalkan LGBT dengan menyetarakan Gender bagi Homoseksual diturunkan secara biologis Namun banyak yang tidak menyadari, bahwa memperjuangkan kesetaraan gender tidak berarti memperjuangkan keadilan, karena keadilan tidak selalu bermakna menyamaratakan.

Ketika mereka menawarkan argumentasinya tersebut, mereka menawarkan berbagai kajian terkait untuk mendukung argumen tersebut. Maka berbagai jurnal ilmiah dibangun diatas paradigma yang sangat kental dengan prinsip relativismenya. Karena serba relatif maka temuan-temuan pun akan banyak pro kontranya.Seperti homoseksual bukan penyakit berdasarkan kajian ilmiah yang sejalan dengan gerakan mereka. Sementara yang tidak sejalan jarang terpublikasikan bahkan tercatat beberapa ilmuwan merasa mengalami bullying jika mereka bertentangan dengan arus opini yang dibentuk. Intinya yang dibangun adalah kekuatan dalam membuat opini.

Eksistensi LGBT dapat mengancam pranata sosial terutama struktur keluarga berupa dekonstruksi konsep keluarga. Keluarga tidak selalu terdiri dari istri yang perempuan dan suami yang laki-laki. Dampak kelanjutannya adalah bencana demografi. Disamping banyak faktor-faktor lainnya. Amerika sendiri berdasarkan data terakhir memiliki data keluarga nuklir hanya sekitar 25 persen. Selebihnya adalah pasangan yang tidak menikah atau sesama jenis. Di Amerika ada sekitar 2 juta anak yang dibesarkan oleh pasangan homoseksual dengan problem sosial yang akan timbul berdasarkan penelitian banyak ahli seperti depresi, kurang nyaman, dan empat kali lipat lebih memerlukan bantuan sosial dibanding anak lainnya.

Hukum di Indonesia sudah mengatur dalam UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha esa. Jadi sungguh tidak ada alasan atas nama HAM aktifitas LGBT harus dilegalkan ! Jelas-jelas itu bertentangan dengan nilai Norma yang ada di Indonesia.

Maka, sudah sepantasnya masyarakat Indonesia berpikir kritis untuk menolak LGBT dilegalkan di Indonesia. Namun dengan melakukan cara-cara destruktif dan membully kelompok ini bukanlah cara yang tepat.Sebab hal tersebut akan semakin menjauhkan mereka.Tapi dengan cara melakukan pendekatan agar memahami bahwa pilihan ini adalah pilihan yang tidak bisa diterima dalam konteks sosial moral dan agama yang ada di Indonesia. Pemerintah semestinya juga membuat aturan yang tegas mengenai hal ini untuk menghindari kemaslahatan umat. 

Menikah (cinta) sesama jenis itu merupakan larangan, bukan pilihan. Agama mana pun melarangnya, termasuk dasar negara kita,” 

Semua Manusia memiliki potensi keburukkan dan manusia yang baik adalah yang mampu melawan potensi keburukan itu dengan potensi kebaikannya. Terus mendekatkan diri Kepada ALLAh SWT. LGBT Kalian Bisa Sembuh...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.