Header Ads

Link Banner

Alumni Ini Jadi Penjaga "Pagar" Nusantara

Syofyan Hasan SPi MSc (Ilmu Kelautan Unri, 1991)

www.terasunri.com - Negara Republik Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Tercatat, lebih dari 1.000 pulau ada di gugusan nusantara ini. Setiap pulau juga memiliki potensi-potensi besar yang  masih tersembunyi yang belum tereksplor dengan baik. Baik sektor pariwsata dengan kekayaan alamnya maupun sektor energi yang melimpah. 

Namun sayangnya, karena lepas dari pandangan, beberapa pulau ‘hilang’ diklaim Negara lain sebagai miliknya. Seperti yangterjadi pada Pulau Babi di Timor Leste yang hilang karena tidak pernah ‘disapa’ nusantara. 

Kehilangan tersebut membuat seorang Syofyan Hasan terpukul dan komit untuk menjadi penjaga ‘pagar’ nusantara tersebut. Sebelumnya menurut ceritanya memang sudah ada Peraturan Presiden Nomor 78/2005 dimana menyatakan ada 17 kementerian yang memiliki tanggungjawab memberi perhatian kepada pulau-pulau terdepan itu. 

Namun sayangnya, pengaplikasian tersebut tidak maskimal karena hanya dilakukan kegiatan-kegiatan di kabupaten induk bukan di pulau-pulau terdepan.

 Sadar akan kemampuan pemerintah terbatas, alumus Ilmu Kelauatan Unri 1991 ini ‘berdagang’ ke lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kementerian untuk benar-benar membangun program langsung ke lokasi pulau terdepan tersebut.

‘’Secara sadar bisa disebutkan banyak pulau-pulau nusantara ini dicaplok oleh negara lain. Bukan salah mereka, tapi memang kelalaian kita tidak pernah menyapa pulau tersebut secara langsung. 

Padahal hal tersebut sangat penting karena pulau-pulau ini ibarat benteng nusantara yang harus dijaga. Jika bentengnya rusak, maka pertahanan negara di dalamnya tentu akan terganggu. 

Makanya itu, saya bersama rekan-rekan lainnya mencoba ‘jualan’ ke lembaga lain agar paham arti penting pulau tersebut. Kita sudah sadar, tidak cukup hanya pemerintah saja yang memperhatikan tapi kita semua,’’ terang Syofyan Hasan.

Salah satu upaya nyata selain sekadar ‘ngemen’ di setiap kementerian guna membangun pulau-pulau terdepan itu, dari pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menggandeng perguruan tinggi serta LSM untuk membangun dan memperhatian pulau tersebut. 

Khusus untuk perguruan tinggi, dibentuk pulau-pulau adopsi yang menjadi kawasan pengembangan dengan program pengabdian masyarakat sesuai dengan Tridarma Perguruan Tinggi. Sebagai contoh, Universitas Indonesia (UI) mengadobsi Pulau Sugi Kecil Natuna, UGM di Puau Alor, daerah Marore dan lainnya. Program juga dalam bentuk kuliah kerja nyata (KKN) serta beasiswa untuk anak-anak pulau yang diadobsi PTN. Tidak hanya itu, dari pemerintahan sendiri sudah memiliki beberapa program pembangunan di pulau-pulau terdepan ini baik peningkatan infrastruktur jalan, listrik maupun air bersih. 

Syofyan juga tidak sekadar mendata dan melihat secara data, namun ia dan timnya juga sudah menjejakkan kaki di beberapa pulau terdepan untuk dapat melihat langsung apa yang ada dan terjadi di pulau tersebut.

‘’Jelas tidak akan ada yang percaya dengan apa yang dilihat. Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, masih saja ada rakyat Indonesia yang belum merasakan apa itu listrik. Makanya kita buat program PLTS yang harganya cukup mahal. Tapi jika tidak sekarang kapan lagi.

 Intinya mereka di sana sudah sangat senang dikunjungi pemerintah atau tamu saja dari NKRI dan itu sudah kami lakukan. Selanjutnya LSM kita gandeng guna menjadi perpanjangan tangan mereka, tapi LSM yang benar-benar ikut dan ingin memajukan pulau-pulau terdepan ini,’’ jelasnya.

Yang paling membuatnya merinding ketika menggelar upara HUT RI di Pulau Maratua. Seluruh masyarakat takjub dan terpana. Bahkan, seorang yang cukup tua di pulau tersebut menyatakan ia dan masyarakat pertama kali melihat upacara bendera yang seperti ini di lapangan. Biasanya, mereka hanya melihat di televisi yang jelas menunjukkan perlu perhatian yang lebih sebagai rakyat Indonesia.  

Dengan menyaksikan langsung kondisinya, pihaknya sudah menyiapkan beberapa rencana untuk perhatian pulau terdepan. Pendekatan pengelolaan pulau kecil terdepan yaitu dari sisi keamanan dan pertahanan dimana yang tidak berpenduduk dibangun pos keamanan, kesejahteraan masyarakatnya berupa pembangunan infrastruktur dan bidang kelestarian alam dimana pulau tidak berpenghuni akan menjadi kawasan konservasi agar plasma nutfa bisa terjaga. 

‘’Banyak potensi besar di sana, makanya kita akan daftarkan mereka. Jadi, di masa akan datang, andai pulau itu sudah tidak ada atau tenggelam oleh alam, anak cucu kita masih mengetahui jika pulau ini pernah ada di NKRI sebagai benteng terdepan nusantara,’’ ujarnya.

Sumber : http://www.riaupos.co/130433-berita-menjaga-benteng-nusantara.html#ixzz4MNV0pqNH

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.