Header Ads

Link Banner

Alumni Ini Pilih jadi "Pendekar" Kritik

Saiman Pakpahan SIP MSi (Hubungan Internasional FISIP Unri, 1994)

www.terasunri.com - Bersuara lantang bukan berarti melawan, teriak bukan berarti tak peduli. Mungkin itu yang ingin disampaikan seorang Saiman Pakpahan. Berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unri tidak membuat Saiman terus meneriakkan ketidakadilan yang terjadi dalam hal pengambilan kebijakan di tanah Melayu ini. Terkadang juga, suara lantangnya membuat risih pemangku kebijakan dan politik. 

Namun begitu, tidak sedikit yang justru mengadopsi ide-ide dan inovasi-inovasi yang keluar dari suaranya yang berat itu. Menariknya, sebagai akademisi saat ini Saiman kerap dipanggil menjadi narasumber maupun pemateri dalam hal bicara kebijakan dan politik di Riau.

Diceritakannya, semua yang disampaikannya dan bandrol sebagai pemerhati kebijakan publik dan perpolitikan di Riau berawal dari gairah mudanya saat masih menjadi mahasiswa beberapa tahun yang lalu. 

Lingkungan aktivis dan dorongan untuk meneriakkan harapan rakyat akan ketidak mampuan pemerintah dalam melindungi kepentingan rakyat membuatnya turun ke jalan. 

Tidak jarang, Saiman muda teriak dalam panasnya cuaca di Riau akan kebijakan pemerintahan yang dinilai tidak memihak rakyat. Hingga saat ini, Saiman tetap konsisten meneriakkan keterpurukan masyarakat akibat kebijakan yang dinilai tidak prorakyat.

 Hanya saja, pendewasaan diri dan tambahan ilmu dan teori yang diperolehnya dari Unri dan UGM membawanya dalam wadah kedewasaan dalam mengkritik.

 ‘’Memang terkadang tidak didengar, tapi setidaknya apa yang disampaikan itu adalah apa yang sebenarnya diinginkan masyarakat. Saya memberikan perhatian selain karena teriak dari bawah melalui observasi juga dipadukan dengan teori dan pendekatan ilmu yang diperoleh di bangku kampus. Jadi semuanya lebih relevan dan dapat dipertanggungjawabkan. Usia memang tidak muda, tapi semangat muda masih ada di sisi saya saat ini,’’ ujarnya.

Ditanya soal tawaran untuk menjadi pendamping dalam sistem pembuat kebijakan, Saiman mengaku ada dan banyak. Hanya saja, dengan menduga akan terjadi irisan dan konflik kepentingan di sana. Hal tersebut tidak kunjung disambutnya. 

Tawaran pundi uang yang cukup tidak menjadikannya gelap mata, meski mengaku uang adalah keperluan primer. Ia memilih untuk tetap menjadi ‘pendekar’ sendiri yang memberikan masukan dan kritikan dalam setiap kebijakan yang ditelorkan pemangku kebijakan.

 ‘’Cara yang baik itu bagaimana tidak terlibat di dalamnya sehingga bisa melihat persoalan lebih jernih dan tidak subjektif. Lebih mengawal dari luar, karena jika di dalam itu kita akan melempem dan tidak bisa bersuara lantang. Harapan saya itu minimal bisa membawa perpolitikan secara ideal dan mengawal kebijakan yang pro akan masyarakat secara nyata,’’ ujarnya.

Sumber : http://www.riaupos.co/130547-berita-memilih-jadi-%E2%80%98%E2%80%98pendekar%E2%80%99%E2%80%99-kritik.html#ixzz4MeR31lFO

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.