Header Ads

Link Banner

Alvian : Pemimpin Jangan Cuma Retorika Dengan Tragedi Rohingya


terasunri.web.id - "Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan", inilah kutipan Soo Hok Gie seorang aktivis dimasa orde lama hingga orde baru yang mengkritik pemerintah lewat tulisan-tulisan tajamnya. Kutipan ini pula yang menjadi penyemangat Alvian Syarizal, Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Menadvokesma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau (UR).

Menyikap tragedi muslim Rohingya yang terus terjadi Alvian pun tak tinggal diam. Selain aksi jalanan, ia juga aktif membuat tulisan-tulisan atas tragedi etnis Rohingya yang tak kunjung usai.


"HAM Rohingya di bungkam, Indonesia seharusnya tidak diam. Karena Indonesia adalah negara yang memiliki cita-cita bangsa yang tertuang dalam alenia ke-4 yang salah satunya berbunyi "ikut dalam ketertiban dunia", paparnya.

Alvian juga menambahkan ikalah aksi mahasiswa pedulia Rohingya memacetkan jalan, bahwa itu membuktikan masih ada pemuda-pemuda yang ingin menjadi aktor demi mewujudkan cita-cita bangsa dalam ketertiban dunia, menyuarakan keresahan dan menginginkan keadilan atas pembantaian masyarakat rohingya oleh pemerintahan myanmar yang tak berperikemanusiaan..

Aksi di indonesia, tragedi pembantaian di Rohingya memanglah tak berfek dengan nyata. Namun setidaknya para pemuda yang resah akan ketidakadilan, tidak buta akan pembantaian tidak tuli akan kebenaran.


"Wahai pemimpin negeriku, bersikap dan gelisahlah! Duduk bersama dan berdiskusilah bersama pemimpin ASEAN untuk mencari solusi yang nyata bukan retorika yang hanya turut berbelasungkawa terhadap pembantaian yang tak berperikemanusiaan ini. Jangan kau takut apa lagi ciut. Karena ini adalah perjuangan dari cita-cita bangsa setelah merdeka wujudkan dan laksanakan" ,lantang Alvian.


"Ambillah sikap yang tegas, agar dunia tahu Indonesia di pihak yang mana. Berjuang membela keadilan atau diam dalam kemunafikan" tutupnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.